Mengapa Manusia Membutuhkan Validasi dari Orang Lain? Pernahkah kamu merasa sangat senang saat postingan foto barumu di Instagram mendapatkan banyak ‘like’ dan komentar pujian? Atau mungkin kamu merasa lega luar biasa ketika presentasi di depan kelas atau kantor dipuji oleh guru atau bosmu? Tenang saja, kamu tidak sendirian di dunia ini. Keinginan untuk diakui, didengar, dan dihargai—atau yang sering kita sebut sebagai butuh validasi—adalah hal yang sangat manusiawi dan dialami oleh hampir semua orang.
Secara sederhana, validasi adalah pengakuan atau penerimaan dari orang lain terhadap perasaan, pikiran, tindakan, atau keberadaan kita. Di zaman modern yang serba digital ini, kebutuhan akan validasi sering kali terlihat lebih nyata lewat interaksi di media sosial. Tapi sebenarnya, mengapa kita begitu mendambakan validasi tersebut? Apakah ini tanda bahwa kita kurang percaya diri, atau memang ada alasan ilmiah di baliknya? Mari kita bahas dengan santai dan mendalam di artikel ini.
Alasan Evolusioner: Kita Adalah Makhluk Sosial
Sejak zaman purba kala, manusia dirancang untuk hidup berkelompok demi bisa bertahan hidup. Pada masa itu, diusir dari kelompok atau suku sama saja dengan hukuman mati karena manusia tidak bisa berburu dan melindungi diri dari ancaman alam sendirian. Oleh karena itu, otak kita berevolusi untuk selalu mencari tanda-tanda bahwa kita diterima oleh kelompok kita. Validasi dari orang lain adalah sinyal aman bahwa kita adalah bagian dari kelompok tersebut.
Di era modern, insting bertahan hidup ini tidak hilang begitu saja, melainkan berubah bentuk. Kita tidak lagi takut dimakan harimau, tetapi kita takut ‘dibuang’ atau dikucilkan dari lingkungan pertemanan, sekolah, atau tempat kerja. Ketika orang lain memberikan validasi—baik lewat pujian verbal maupun jempol di media sosial—otak kita menangkapnya sebagai sinyal bahwa kita aman dan diterima di lingkungan sosial kita.
Sisi Psikologis: Membantu Membentuk Identitas Diri
Sejak kita bayi, kita belajar tentang diri kita sendiri lewat cermin yang bernama ‘orang lain’. Ketika seorang bayi tersenyum dan ibunya membalas senyuman tersebut, bayi itu belajar bahwa kehadirannya membawa kebahagiaan. Proses ini terus berlanjut hingga kita tumbuh remaja dan dewasa. Kita membutuhkan umpan balik dari luar untuk memahami siapa diri kita, apa kelebihan kita, dan di mana posisi kita di tengah masyarakat.
Teori Cermin Sosial (Looking-Glass Self)
Dalam ilmu sosiologi, ada konsep menarik yang disebut Looking-Glass Self. Konsep ini menjelaskan bahwa cara kita memandang diri sendiri sebagian besar dipengaruhi oleh bagaimana kita berpikir orang lain memandang kita. Jadi, saat teman-temanmu memujimu sebagai orang yang humoris, kamu akan mulai mengidentifikasi dirimu sebagai orang yang menyenangkan. Validasi eksternal ini membantu kita menyusun puzzle identitas diri yang sedang kita bangun.
Hormon Kebahagiaan di Balik Sebuah Pujian
Pernahkah kamu penasaran mengapa rasanya begitu candu saat mendapatkan pujian? Jawabannya ada di dalam kepala kita, tepatnya pada zat kimia otak yang bernama dopamin. Dopamin adalah hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang, penghargaan, dan motivasi. Ketika kita mendapatkan validasi, otak kita melepaskan dopamin dalam jumlah besar, membuat kita merasa bahagia secara instan.
Sistem penghargaan (reward system) di otak ini mirip dengan apa yang terjadi saat kita memakan makanan manis yang lezat. Karena rasanya enak, otak kita akan meminta lagi dan lagi. Inilah mengapa kita sering kali secara tidak sadar terus mencari validasi dari orang lain, karena tubuh kita meresponsnya sebagai sesuatu yang positif dan menyenangkan.
Contoh Validasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Mari kita lihat beberapa contoh sederhana yang pasti sering kamu alami atau lihat di sekitarmu dalam kehidupan sehari-hari:
- Media Sosial: Menunggu jumlah ‘likes’ naik setelah mengunggah foto estetik di Instagram atau video seru di TikTok.
- Lingkungan Sekolah atau Kampus: Merasa sangat bangga ketika guru atau dosen memuji hasil tugasmu di depan kelas.
- Hubungan Asmara: Bertanya kepada pasangan, ‘Aku kelihatan cocok gak pakai baju ini?’ untuk mendapatkan penegasan bahwa kita tetap terlihat menarik.
- Dunia Kerja: Mengharapkan apresiasi dari atasan setelah lembur menyelesaikan proyek besar yang melelahkan.
Kapan Kebutuhan Validasi Ini Menjadi Masalah?
Meskipun mencari validasi adalah hal yang normal, hal ini bisa berubah menjadi bumerang jika porsinya berlebihan. Masalah mulai muncul ketika kamu menjadikan validasi orang lain sebagai satu-satunya tolok ukur harga dirimu. Jika kamu hanya merasa berharga saat dipuji, dan langsung merasa hancur atau tidak berguna saat dikritik atau diabaikan, maka kamu sedang terjebak dalam pusaran kecanduan validasi.
Ketergantungan yang tinggi pada pendapat orang lain bisa membuatmu kehilangan jati diri yang sebenarnya. Kamu mungkin akan mulai melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kamu sukai hanya demi menyenangkan orang lain (people pleasing). Kamu memakai baju yang tidak nyaman, mendengarkan musik yang tidak kamu nikmati, atau bahkan mengubah opinimu hanya agar bisa diterima oleh circle pertemananmu.
Cara Mengurangi Ketergantungan pada Validasi Eksternal
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa tetap menikmati validasi tanpa harus menjadi budak dari pendapat orang lain? Kuncinya adalah dengan membangun validasi internal atau self-validation. Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang bisa kamu coba mulai hari ini:
1. Sadari dan Terima Perasaanmu Sendiri
Langkah pertama adalah dengan belajar mendengarkan suaramu sendiri. Sebelum bertanya kepada orang lain, tanyakan pada dirimu terlebih dahulu: ‘Bagaimana perasaanku tentang hal ini?’ atau ‘Apakah aku menyukai hasil kerjaku hari ini?’. Belajarlah untuk mengapresiasi usahamu sendiri sebelum menunggu orang lain melakukannya untukmu.
2. Batasi Paparan Media Sosial
Media sosial dirancang khusus untuk memicu pencarian validasi instan. Jika kamu merasa mulai terlalu cemas memikirkan jumlah interaksi di akunmu, cobalah untuk mengambil jeda sejenak dengan melakukan detoks media sosial. Gunakan waktu tersebut untuk fokus pada aktivitas di dunia nyata yang membuatmu merasa produktif tanpa perlu memamerkannya.
3. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir
Sering kali kita mencari validasi karena terlalu fokus pada hasil akhir yang bisa dilihat orang lain. Cobalah untuk mengalihkan fokusmu pada proses belajar dan perkembangan dirimu. Rayakan setiap pencapaian kecil yang kamu raih, meskipun tidak ada orang lain yang melihat atau mengetahuinya.
Kesimpulan
Menginginkan validasi dari orang lain adalah hal yang sangat wajar karena kita adalah makhluk sosial yang diprogram untuk terhubung dan diterima oleh sesama. Namun, ingatlah bahwa opini orang lain bersifat sementara dan tidak bisa sepenuhnya kamu kendalikan. Validasi terbaik dan paling stabil yang bisa kamu dapatkan adalah validasi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Mulailah menghargai dirimu apa adanya hari ini.











